Minggu, 17 Juni 2012

ASPEK MEDIS SELAM




E-mail
Written by Administrator   

Snorkeling(Skin Diving)
Snorkeling merupakan kegiatan dasar yang harus dikuasai seorang calon penyelam. Ini bertujuan untuk melatih pernapasan menggunakan mulut dan gerakan kaki yang berguna pada saat penyelam.
Yang harus diperhatikan dalam snorkeling yaitu:

1. Dead Air Space
Pada umumnya snorkel yang dipakai penyelam tidak lebih dari 30 cm panjangnya. Hal ini untuk menghindari Dead Air Space atau volume ruang udara mati yang mengakibatkan udara hanya bergerak di daerah itu saja dan tidak ke lingkungan bebas. Sehingga bertambah panjang snorkel akan bertambah besar ruang udara mati.
2. Kekurangan Oksigen (Hypoksia)
Seorang penyelam skin yang berusaha menahan napas untuk dapat berada di dalam air lebih lama, apabila dipaksakan mengakibatkan penyelam akan mengalami kekurangan oksigen (anoksia) sehingga jaringan tubuh tidak mendapat O2.

3. Shallow Water Blackout
Pingsan di air dangkal. Hal ini dikarenakan penyelam melakukan hiperventilasi berlebih sehingga kadar karbondioksida menurun tajam dan selama penyelaman tubuh mengalami hipoksia sedangkan respon/keinginan tubuh untuk bernapas belum ada.
Hiperventilasi adalah upaya penyelam untuk memperpanjang tahan napas pada skin diving dengan bernapas dalam dan berlebihan. Hal ini dilakukan penyelam skin untuk bertahan napas lebih lama dengan mengurangi/membuang gas CO2. Sebenarnya cara ini berbahaya karena jika kadar CO2 turun, maka tidak akan terjadi perangsangan untuk bernapas ke permukaan.
Penyelam skin yang melakukan over hiperventilasi di permukaan dan kemudian menyelam pada kedalaman 10 feet (10 m) akan mengalami peningkatan tekanan parsial O2 dalam darah dari 3 psi ke 6 psi. Bila diteruskan ke yang lebih dalam lagi sehingga melewati batas dimana CO2 telah memberikan peringatan untuk muncul. Dikarenakan CO2 kurang saat hiperventilasi, sedangkan O2 yang digunakan sudah pada titik rendah ½ psi yang pada akhirnya CO2 menumpuk hingga batasnya dan penyelam akan muncul ke permukaan.
Sesampainya di permukaan, peredaran darah menurun dan O2 menjadi nol, maka akibatnya akan pingsan dekat permukaan. Biasanya penyelam pingsan karena anoxia (kehabisan O2). Gejalanya yaitu denyut nadi dan tekanan darah meningkat, biru pada bibir, jari dan kaki, serta pingsan. Segera berikan udara segar/O2 murni dan jika pingsan berikan pernapasan mulut ke mulut. Untuk itu bila penyelam melakukan snorkeling/ skin diving, bernapas dalam dua kali sudah cukup untuk menyelam secara efisien. Jangan melakukan hiperventilasi dan hindari menahan napas melewati peringatan CO2. Untuk penyelam scuba jangan melakukan hiperventilasi.
4. Squeeze Paru
Merupakan barotrauma yang sangat jarang yang bisa terjadi pada breath hold diving/skin diving. Penyelam mengalami sesak napas setelah mencapai permukaan dari kedalaman > 100 FSW. Dapat disertai dengan batuk berdarah/berbuih dan harus diberikan oksigen. Gejala tersebut menurun dalam beberapa hari.
Hal ini terjadi ketika penyelam turun ke kedalaman dimana Volume Total Paru (TLV) berkurang kurang dari Volume Residu (RV), pada poin itu tekanan transpulmonal melebihi tekanan alveoli, hal ini akan menyebabkan pengeluaran cairan dan darah membuat penyelam sesak napas.
Penyelam normal dengan TLV 6 liter dan RV 1,2 L hanya dapat menyelam hingga tekanan 5 ATA (132 FSW) , lebih dalam dari itu akan mengalami squeeze paru. Akan tetapi beberapa penyelam dapat menyelam lebih dari itu tanpa masalah.
SCUBA Diving
Efek dan Bahaya Perubahan Tekanan pada Tubuh
Karena adanya perbedaan tekanan di kedalaman air, maka penyelam yang menyelam ke dalam akan mengalami efek langsung tekanan air. Untuk itu diperlukan equalisasi yaitu penyesuaian tekanan.
1. Efek Langsung Tekanan
Pada tubuh manusia terdapat rongga-rongga udara dan apabila untuk menyelam akan mengalami tekanan langsung yang dapat berpengaruh terhadap rongga-rongga tersebut. Rongga tersebut yaitu kulit (jika memakai dry suit), lubang telinga dan telinga tengah, sinus, gigi, paru-paru, dan saluran pencernaan. Ketidakseimbangan tersebut akan menyebabkan barotrauma yang dapat berupa squeeze, kerusakan organ, atau minimal menimbulkan rasa sakit dan rasa tidak nyaman. Squeeze adalah pengerutan jaringan tubuh akibat dari tidak dapatnya jaringan tubuh menyamakan tekanan atau equalisasi.
Mask Squeeze
Terjadi pada saat penyelam lupa mengeluarkan udara ke dalam masker pada saat equalisasi sehingga terbentuk tekanan negatif pada ruangan masker. Hal ini mengakibatkan kapiler darah di muka rusak dan menyebabkan pendarahan ke dalam kulit (ecchymosis) dan pendarahan konjungtiva.
Squeeze Lubang Telinga
Terjadi karena adanya udara yang terperangkap di dalam lubang telinga. Udara tersebut dapat terperangkap karena:
  • Serumen (kotoran telinga).
  • Earplug (tidak boleh dipakai dalam penyelaman)
  • Hood atau penutup kepala.
  • Wet suit/dry suit yang menutup telinga.
Hal ini menyebabkan terbentuknya ruang bertekanan negatif sehingga dapat menyebabkan hal yang sama. Gejala meliputi sakit pada telinga, pembengkakan, kemerahan kulit lubang telinga. Pada kasus yang parah dapat terjadi robek gendang telinga.
Squeeze Sinus (Barosinusitis)
Mekanismenya sama dengan squeeze lain. Jika pada saat turun ke dalam. Jika terdapat sumbatan pada saluran sinus akan menyebabkan sinus squueze. Sumbatan ini disebabkan oleh:
  • Sinusitis (infeksi/alergi) dimana pembengkakan jaringan menyebabkan penyumbatan saluran ke hidung.
  • Rhinitis (hay fever), prosesnya sama dengan sinusitis.
  • Polip, yaitu pertumbuhan jaringan kecil yang dapat menutupi saluran sinus. Polip terdapat pada rongga hidung.
  • Lipatan jaringan yang berlebihan.
  • Sumbatan oleh lendir yang mengering.
Gejalanya yaitu rasa sakit di wajah, kening, atau pipi selama menyelam.
Tipe yang jarang yaitu reverse sinus squeeze yang terjadi pada saat naik ke permukaan. Kondisi ini diakibatkan karena tingginya tekanan udara dalam sinus. Ini biasanya terjadi pada penyelam yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas atau alergi berat yang minum obat dekongestan (mengurangi produksi cairan) sesaat sebelum menyelam, tetapi efek obat tersebut hilang setelah menyelam di kedalaman.
Pencegahan barosinusitis atau squeeze sinus yaitu dengan tidak menyelam pada saat terkena infeksi saluran napas atas atau hal-hal lain yang dapat mengakibatkan penutupan saluran sinus.


Squeeze Gigi (Barodontalgia)
Nama lainnya yaitu aerodontalgia. Kondisi ini disebabkan karena adanya gas yang terperangkap di dalam gigi atau struktur sekitar gigi. Adanya gas akan mengakibatkan terbentuknya tekanan negatif atau positif di dalam ruangan yang terbatas. Hal ini akan merangsang struktur sensitif gigi danmengakibatkan rasa sakit. Barodontalgia dapt disebabkan oleh kondisi sebgai berikut.
  • Karies (karang gigi).
  • Restorasi gigi (penambalan gigi).
  • Luka di daerah mulut.
  • Cabut gigi (belum lama).
  • Abses periodontal (kumpulan nanah dekat jaringan gigi).
  • Terapi pada akar gigi.
Jika terdapat sekumpulan udara tertangkap di gigi pada tekanan permukaan laut, tekanan di luar gigi akan meningkat pada penyelaman, maka gigi akan pecah ke arah dalam, dan ruangnya akan terisi darah. Kebalikannya, jika kumpulan udara terbentuk selama di kedalaman, jika bergerak ke permukaan volumenya akan meningkat sesuai hukum Boyle yang mengakibatkan gigi pecah ke arah luar. Untuk mencegah barodontalgia, setiap penyelam harus menunda penyelaman sedikitnya 24 jam setelah terapi/tindakan pada gigi.

Squeeze Telinga Tengah (Barotitis Media)
Tingkat kejadian squeeze telinga tengah sangat tinggi sekitar 40 % dialami oleh para penyelam.
Hal ini terjadi jika terdapat sumbatan yang menghalangi equalisasi rongga di telinga tengah yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran tuba eustachius.
Tersumbatnya saluran tuba eustachius dapat disebabkan oleh:
  • Infeksi saluran napas atas.
  • Allergi.
  • Rokok.
  • Polip.
  • Trauma wajah yang dialami sebelumnya.
Dapat juga terjadi jika penyelam lupa melakukan equalisasi dengan cara Manuver Valsava dan Frenzel.
  • Manuver Valsalva yaitu meniup udara melawan dengan bibir dan hidung tertutup dan lidah ke arah belakang untuk meningkatkan tekanan rongga faring yang diteruskan ke dalam telinga tengah melalu tuba eustachius. Manuver ini juga dapat membuka tuba eustachius yang tertutup. Biasa disebut mengedan.
  • Manuver Frenzel yaitu dengan menelan dengan lidah ke belakang dimana bibir ditutup dan lubang hidung di tekan (memencet hidung).
Biasanya penyelam sudah mengalami sedikit rasa sakit pada perbedaan tekanan 60 mmHg. Manuver ini baik dilakukan pada kedalaman 4 feet. Jika penyelam tidak melakukan equalisasi dengan manuver ini pada perbedaan tekanan lebih dari 100-400 mmHg (4,3-17,4 feet) maka akan terjadi squeeze yang dapat mengakibatkan robek gendang telinga. Air dingin kemudian masuk ke telinga tengah dan menyebabkan vertigo. Gejalanya terjadi sesaat penyelam turun dari permukaan air. Penyelam juga mengeluh rasa sakit dan rasa penuh dalam telinga atau mengalami vertigo. Sakitnya semakin parah sehingga penyelam dapat meneruskan atau menghentikan penyelaman. Pencegahannya dengan selalu equalisasi setiap turun ke kedalaman.


Barotrauma Telinga Dalam
Merupakan barotrauma yang sangat serius karena akan menyebabkan ketulian permanen. Barotaruma ini jarang terjadi. Trauma ini terjadi karena perbedaan tekanan yang bermakna antara telinga tengah dan telinga dalam. Hal ini disebabkan terlalu kuatnya manuver Valsava atau turun ke dalam terlalu cepat.
Gejalanya utama yaitu berdenging, vertigo, dan tuli. Dapat juga disertai rasa penuh pada telinga, mual dan muntah, berkeringat, dan pucat. Gejala ini bisa timbul segera setelah trauma atau dapat berkembang dalam 1 jam, tergantung aktivitas penyelam selama dan sesudah penyelaman.
Alternobaric Vertigo
Merupakan barotaruma yang sangat jarang. Terjadi pada saat naik ke permukaan yang disebabkan karena perubahan tekanan tiba-tiba pada telinga tengah yang menyebabkan perangsangan ke telinga dalam dan menyebabkan vertigo. Vertigo ini hanya sebentar dan tidak memerlukan penanganan dapat membuat penyelam panik, yang dapat mengakibatkan tenggelam, kerusakan paru, atau emboli udara, atau trauma lain yang sangat serius.
Gejalanya yaitu kehilangan orientasi terhadap sekeliling dan tiba-tiba mual sekali. Pencegahannya yaitu:
  • Jangan memaksakan diri bilamana rasa sakit menetap.
  • Jangan melakukan penyelaman terlalu dalam dan hentikan penyelaman.
  • Jangan menyelam sewaktu kepala sakit/pusing.
Bila mengalami hal ini berhenti atau berpegang pada sesuatu sampai perasaan itu hilang. Jangan muncul kepermukaan selama masih ada reaksi dan bernapas dengan wajar.

Aerogastralgia (Gastrointestinal Barotrauma)
Hal ini sering terjadi pada penyelam yang masih baru. Karena saluran pencernaan lunak, adanya gas di dalam usus selama turun ke dalam tidak menyebabkan barotaruma. Tetapi adanya pengumpulan gas selama di kedalaman akan menyebabkan barotrauma pada saat naik. Hal yang mengakibatkannya yaitu:
  • Manuver Valsava yang berlebihan, atau yang berulang-ulang terutama pada posisi kepala di bawah yang mengakibatkan udara terdorong ke lambung.
  • Mengunyah permen karet selama penyelaman.
  • Memakan banyak ubi-ubian atau minum minuman berkarbonasi sesaat sebelum menyelam.
Gejalanya yaitu rasa penuh pada perut, sakit pada perut, sering bersendawa, atau buang angin. Hal yang serius jika terjadi perangsangan saraf yang menyebabkan jantung lemah berkontraksi dan penekanan pada vena oleh usus, tapi hal ini jarang.

Squeeze Kulit
Squeeze kulit jarang terjadi. Jika pada area kulit penyelam ada kumpulan udara yang terperangkap pada lipatan/lekukan dry suit. Selama penyelaman tekanan negatif terjadi pada area tersebut, sehingga menyebabkan pembuluh darah kapiler kulit pecah dan darah keluar mengisi ruang tekanan negatif. Kulit berwarna kemerahan. Tidak memerlukan perawatan dan sembuh dalam beberapa hari/minggu.

Pengaruh Tekanan Sewaktu Muncul ke Permukaan
Pengembangan Paru Melewati Batas, Pulmonary Barotrauma of Ascent (Pulmonary OverPressurization Syndrome) atau POPS
Pengembangan melewati batas pada paru-paru dapat terjadi pada penyelam yang menyelam yang melewati tekanan lebih, dengan menahan napas tiba-tiba muncul di permukaan yang lebih rendah, yang akan memecahkan alveoli (ingat hukum Boyle).
Gelembung akibat pecahnya alveoli bergerak ke bagian tubuh lain dan gejalanya tergantung dari lokasi dan volume udara yang masuk. Manifestasinya yaitu:
  • Mediastinal emphysema
  • Subcutaneous emphysema
  • Pneumothorax
  • Emboli udara
Biasanya penyelam melakukan hal ini karena kehabisan udara, panik, mengalami bouyancy positif secara tiba-tiba seperti melepas sabuk pemberat atau inflasi BC secara cepat.
Hal ini mengingatkan penyelam untuk bernapas secara wajar dan tidak boleh menahan napas saat muncul ke permukaan dan ini berlaku untuk penyelam yang memakai peralatan scuba.
Mediastinal Ephysema
Manifestasi pengembangan paru yang melewati batas yang paling sering yaitu mediastinal emphysema. Gelembung dari paru-paru yang pecah, masuk ke rongga antara paru-paru di dekat jantung dan tenggorokan. Gejalanya yaitu sakit di daerah dada karena udara menekan jantung, sesak napas, atau sakit pada saat makan. Dapat pula pingsan. Penanganannya yaitu konservatif, meliputi istirahat, pemberian oksigen, sedangkan rekompressi dilakukan jika sangat parah. Hindari penerbangan selama fase penyembuhan.
Subcutaneus Emphysema
Dari daerah mediastinum gelembung-gelembung udara bergerak naik ke daerah leher, di bawah kulit di sekitar leher, kalau dipegang maka kulit terasa pecah.
Gejalanya yaitu sakit dan sulit bernapas pada bagian yang terkena, napas pendek dan cepat, udara dapat menekan jantung dan pembuluh darah menyebabkan kebiruan.
Penanganan sama dengan diatas. Udara dibung dengan memasukkan jarum dibawah pengawasan ahli.
Pneumothorax
Jarang sekali terjadi, jika terjadi berarti paru-paru pecah, seperti meletus dan gelembung udara langsung memenuhi rongga udara antara paru-paru dan selaput paru (pleura).
Gejalanya yaitu sakit dada, karena udara menekan paru-paru yang terkena.
Dalam kasus yang parah dapat terjadi tension pneumothorax, yaitu pneumothorax yang sangat besar dan membuat paru-paru yang terkena kolaps karena tekanan yang tinggi. Ini merupakan keadaan darurat. Gejalanya yaitu sakit dada yang berat, pengembangan dada tidak sama yaitu paru yang terkena agak tertinggal, dan adanya penekanan ke trakea menjadi tidak lurus. Biasanya terjadi penekanan jantung sehingga cepat pingsan.
Penangan yaitu sama dengan emboli udara. Tetapi sebelum dilakukan rekompressi maka udara yang ada di rongga dada harus dikeluarkan dengan memasukkan jarum oleh atau dengan pengawasan ahli.

Emboli Udara
Adalah pecahnya dinding alveoli yang menyebabkan udara masuk dalam peredaran darah, akibatnya terjadi penyumbatan peredaran darah oleh gelembung-gelembung udara langsung dari paru-paru. Misalnya, jika penyelam naik ke permukaan dari 100 FSW, udara dalam paru mengembang 4 kali volume awal. Jika tidak dikeluarkan, maka menekan paru dan alveoli pecah bersaamaan dengan pecahnya pembuluh darah. Udara terbawa ke kapiler paru dan dibawa ke ventrikel kiri, kemudian di pompa kesuluruh tubuh lewat arteri. Adanya kumpulan udara dalam arteri akan membentuk sumbatan sehingga jaringan kekurangan oksigen. Jika otak mengalami hal tersebut maka akan berakibat kematian.
Gejalanya yaitu lemas, pusing, kelumpuhan/ kelemahan yang hebat, gangguan penglihatan, nyeri dada, kejang-kejang dan pingsan, terkadang disertai busa bercampur darah di mulut.
Penanganannya adalah sebagai berikut.
  • Tempatkan korban dengan posisi kepala dibawah, miring 15o pada bagian kiri badannya.
  • Gunakan oksigen, bila tersedia. Hal ini membantu mengecilkan gelembung-gelembung udara dan memberikan suplai oksigen ke otak.
  • Masukkan ke ruangan rekompressi jika tersedia, hal ini untuk mengurangi besarnya gelembung-gelembung sehingga melancarkan peredaran darah ke otak.
Pencegahan emboli udara yaitu penyelam harus bernapas secara wajar saat memakai peralatan scuba dan tidak menahan napas saat muncul ke permukaan, keluarkan napas secara terus menerus. Napas harus dikeluarkan minimal 10 feet terakhir dari permukaan.

Efek Tidak Langsung Tekanan
okygen Toxicity (Keracunan Okisgen)
Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme. Oksigen yang dihirup adalah 1/5 dari semua oksigen yang ada. Bila campuran gas yang dihirup terdiri dari O2 20 % maka oksigen yang terpakai oleh tubuh adalah hanya 4 % nya sedangkan 16 % dihembuskan. Meskipun dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan tekanan parsial oksigen menyebabkan keracunan. Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan yang tinggi pada penyelaman meningkatkan tekanan parsial oksigen.
Pada kedalaman 40 m (5 ATA), maka penyelam akan menghirup tekanan O2 1 ATA atau O2 100 % seperti menghirup udara murni di permukaan. Oksigen yang tinggi menyebabkan terlalu cepatnya proses metabolisme, merusak protein tubuh dan syaraf. Hal dapat terjadi pada penyelam yang menggunakan Nitrox.
Manifestasi gejala pada pernapasan yaitu batuk dan rasa sakit saat bernapas, pada sistem saraf pusat gejalanya yaitu pelintiran pada otot muka sekitar bibir, gangguan penglihatan, mual, banyak berkeringat dan kejang. Apabila terjadi di air maka berakibat fatal. Penanganannya dengan diberikan udara segar, jangan oksigen murni. Oleh karena itu jangan menyelam terlalu dalam dan gunakan udara biasa yang bersih bukan O2 murni.

Narcose     (Pembiusan oleh Nitrogen)
Merupakan bagian terbesar dari udara yang dihirup oleh manusia. Di permukaan nitrogen merupakan gas lambat (inert gas) dan secara kimia tidak bercampur dalam darah.
Nitrogen melarutkan oksigen dalam campuran udara dan menjadikan udara aman untuk bernapas. Nitrogen diserap dan disimpan dalam tubuh karena inert. Maka dengan inilah alasan utama mengapa penyelam scuba bila muncul ke permukaan harus perlahan.
Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan parsial oksigen meningkat saat menyelam. Nitrogen memiliki efek euforia (suasana senang berlebihan) yang meningkatkan kepercayaan diri, dan mengurangi kognisi dan penilaian situasi sehingga menyebabkan teknik menyelam kacau yang bisa fatal bagi penyelam. Biasanya terjadi mulai kedalaman 70- 100 feet tapi setelah kedalaman 100 feet semua penyelam akan mengalami keracunan.
Pada penyelam scuba, gejalanya berupa kepala terasa ringan, euforia, perasaan gamang, dan kelainan sensorik. Gejala memburuk jika semakin dalam. Pada kedalaman 100 FSW, penyelam semakin keracunan, dengan gejala berkurangnya penilaian, rasa percaya diri meningkat, dan reflek yang menurun. Pada kedalaman 250-300 FSW, terdapat halusinasi lihat dan dengar dan pandangan gelap. Penyelam akan tidak sadar pada kedalaman 400 FSW. Hal ini sering disamakan dengan minum Martini (minuman alkohol). Oleh karena itu penyelam scuba dengan udara kompresi tidak boleh menyelam lebih dari 100 FSW. Jika ingin menyelam lebih dalam gunakan Heliox.
Jika terjadi gejala diatas pada kedalaman 70-100 FSW naiklah ke permukaan dan istirahat atau ke kedalaman lebih dangkal sampai gejala menghilang. Hindari menyelam terlalu dalam dan kenalilah kemampuan diri dan pelajari gejala-gejala tersebut.

Penyakit Dekompresi (Decompression Sickness)
Berbeda dengan emboli udara, Decompression sickness terjadi dimana terbentuknya gelembung udara di dalam darah tanpa mengalami pecahnya alveoli paru. Gejalanya lambat dibanding emboli, karena gas ini terbentuk di pembuluh darah yang menyebabkan matinya sel-sel di jaringan secara perlahan.
Pencegahannnya: Menyelam menggunakan tabel dekompressi . Angkatan Laut dan penyelam komersil seluruh dunia telah membuat tabel selam berdasarkan kalkulasi. Oleh karena itu setiap penyelam harus bisa membac tabel selam. Yang dipakai umumnya adalah U.S. Navy Standard Air Decompression Tables .

Minggu, 05 Februari 2012

Raja Ampat, Taman laut terbesar milik Indonesia

Inilah kecantikan Raja Ampat yang mulai termasyhur itu. Terdiri dari 1500 pulau dan atoll, serta empat pulau besar, Raja Ampat menyimpan terumbu karang terlengkap di dunia. Belum lagi perairannya. Dengan air sebening kaca, dari tebing dengan ketinggian 100 meter, ikan-ikan di bawahnya pun bisa terlihat jelas.

Raja Ampat pun menjadi rumah bagi berbagai spesies burung cendrawasih, maleo, nuri, kakatua serta beragam anggrek.

Menyelam adalah aktivitas favorit bagi mereka yang pergi menuju taman laut terbesar di Indonesia ini. Lihatlah foto-foto keindahan Raja Ampat di bawah ini:















Foto-foto di atas diambil selama pengambilan gambar film 'True Love' yang akan tayang di bioskop mulai 1 Juli 2011.

Rabu, 14 September 2011

Perilaku yang baik saat di lingkungan menyelam

Para penyelam merupakan sebahagian orang yang paling berperan dalam menyuarakan dan meng-advokasi pelestarian terumbu karang. Patuhilah beberapa panduan-panduan sederhana mengenai bagaimana menjadi seorang penyelam yang ramah terhadap terumbu karaada ng berikut ini.

SEORANG PENGUNJUNG YANG BERTANGGUNG JAWAB
• Dalam memilih tempat berlibur, pilihlah tempat atau hotel yang ramah lingkungan; yakni tempat-tempat yang senantiasa mengutamakan semangat konservasi, mendaur ulang limbahnya, mengolah sampah padatnya dengan cara-cara bertanggung jawab.
• Pilihlah perusahaan selam yang menerapkan pelestarian terumbu karang diantaranya:
o Memberikan pengetahuan lingkungan
o Menyelenggarakan lokakarya bagaimana mengatur keseimbangan
o Menggunakan tempat penambatan kapal yang tersedia
o Menggunakan fasilitas saluran pembuangan air yang telah disediakan
o Secara aktif mendukung taman-taman terumbu karang setempat
o Berpartisipasi dalam proyek pelestarian lingkungan setempat
• Bayarlah iuran tanda masuk di taman-taman karang serta daerah-daerah konservasi kelautan lainnya.
• Hindari membeli cindera mata yang terbuat dari batu-batu karang, penyu serta makhluk-makhluk laut lainnya – hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal, serta dianggap kurang bersahabat terhadap lingkungan.
• Pelajari secara seksama mengenai seluk-beluk terumbu karang – terumbu karang sangat menarik namun perlu disadari bahwa terumbu karang merupakan sebuah lingkungan yang mudah rusak pula.

DI DALAM AIR
• Jangan pernah menyentuh karang-karang; meskipun hendak memegangnya secara perlahan. Ada beberapa jenis karang yang dapat menusuk bahkan melukai anda.
• Pilihlah tempat jalan masuk maupun jalan keluar untuk mengindari berjalan di atas karang.
• Pastikan bahwa peralatan yang anda gunakan benar-benar aman.
• Pastikan bahwa anda benar-benar anda berada dalam posisi stabil sepanjang waktu
• Jaga jarak yang aman dan nyaman dengan karang
• Latihlah kontrol keseimbangan tubuh untuk menghindari benturan dengan karang.
• Jagalah keseimbangan dan jangan sekali-sekali berdiri atau beristirahat di atas terumbu karang.
• Hindari penggunaaan sarung tangan dan pelindung lutut di lingkungan batu karang.
• Jangan membawa makhluk yang hidup atau yang mati keluar dari air terkecuali kotoran- kotoran yang tidak terdapat organisme hidup pada kotoran tersebut.
• Jangan pernah mengejar, mengintimidasi atau coba menunggangi binatang di laut.
• Jangan pernah menyentuh, menangani atau memberi makan mahluk laut kecuali dibawah bimbingan pakar dan patuhilah semua petunjuk yang telah dibuat.

FOTOGRAFI&VIDEOGRAFI
Para penyelam membutuhkan keahlian selam tingkat tinggi agar dapat mengambil foto dan gambar ataupun merekam video di bawah air. Peralatan fotografi maupun video tidak praktis dan bahkan dapat mempengaruhi keseimbangan serta ruang gerak penyelam di dalam air. Dalam kondisi seperti ini, sangatlah mudah menyentuh maupun menghancurkan biota laut pada saat perhatian terpusat pada pengambilan gambar.

DI ATAS PERAHU SELAM
• Pilihlah usaha snorkeling yang kapalnya menggunakan tempat penambatan tali yang benar – jangkar dan rantai tidak merusak karang-karang yang mudah hancur.
• Pastikan bahwa sampah-sampahnya disimpan dengan baik, khususnya sampah-sampah plastik
• Pastikan bahwa benda-benda yang anda bawa seperti kardus, baterai yang sudah terpakai serta botol-botol minuman dibawa turun dari kapal untuk di buang dengan benar.

DI TEPI PANTAI
Dukunglah kegiatan taman-taman karang maupun upaya-upaya konservasi lainnya seperti:
• Mengunjungi taman-taman karang yang telah ditetapkan serta membayar uang iuran masuk untuk mendukung kegiatan konservasi kelautan.
• Dukung dan bantu penggunaan tempat penambatan kapal
• Berpartisipasi dalam kegiatan yang diprakarsai masyarakat setempat dalam memonitor lingkungan laut.
• Berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan.
• Bekerja sebagai relawan dalam mendukung taman karang. Misalnya, anda dapat turut serta dalam survey terumbu, melakukan program penjangkauan, atau memberikan pendidikan bagi mereka yang membutuhkan mengenai pelestarian terumbu karang
• Menyumbangkan alat-alat seperti kamera, peralatan selam atau buku identifikasi terumbu karang.
• Hindari pembelian cendera mata yang terbuat dari batu-batu karang, penyu maupun hewan-hewan laut lainnya – sebab hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal, dan juga dianggap tidak ramah terhadap lingkungan.
• Suarakan dengan keras. Pastikan bahwa orang-orang yang akan melakukan menyelam tersebut paham hal-hal sederhana ini karena ini penting bagi latihan pelestarian alam.
Apakah anda sudah melakukan salah satu hal diatas? Sekarang lah saatnya..Do something now!!!!


Sumber : http://www.coralreefalliance.org/

Rabu, 17 Agustus 2011

Terumbu Karang Harus Di Selamatkan ?


Sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga secara alamiah bangsa Indonesia merupakan bangsa bahari. Hal ini ditambah lagi dengan letak wilayah Indonesia yang strategis diwilayah tropis. Hamparan laut yang luas merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumberdaya laut yang memiliki keragaman, baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya lainnya.
Sebagai suatu bangsa bahari yang memiliki wilayah laut yang luas dan dengan ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar didalamnya, maka derajat keberhasilan bangsa Indonesia juga ditentukan dalam memanfaatkan dan mengelola wilayah laut yang luas tersebut.
Keunikan dan keindahan serta keanekaragaman kehidupan bawah laut dari kepulauan Indonesia yang membentang luas di cakrawala khatulistiwa masih banyak menyimpan misteri dan tantangan terhadap potensinya.
Salah satu dari potensi tersebut atau sumberdaya hayati yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya terumbu karang, apabila sumberdaya terumbu karang ini dikaitakn dengan pengembangan wisata bahari mempunyai andil yang sangat besar. Karena keberadaan terumbu karang tersebut sangat penting dalam pengembangan berbagai sektor termasuk sektor pariwisata.
Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memiliki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga.

Mengenali Ekosistem Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan ekosistem yang amat peka dan sensitif sekali. Jangankan dirusak, diambil sebuah saja, maka rusaklah keutuhannya. Ini dikarenakan kehidupan di terumbu karang di dasari oleh hubungan saling tergantung antara ribuan makhluk. Rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut. Tidak cuma itu proses terciptanya pun tidak mudah. Terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun hingga dapat tercipta secara utuh dan indah. Dan yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam.
Sebagai ekosistem terumbu karang sangat kompleks dan produkstif dan keanekaraman jenis biota yang amat tinggi. Variasi bentuk pertumbuhannya di Indonesia sangat kompleks dan luas sehingga bisa ditumbuhi oleh jenis biota lain.
Ekosistem ini adalah ekosistim daerah tropis yang memiliki keunikan dan keindahan yang khas, yang pemanfaatannya harus secara lestari. Ekosistem terumbu karang ini umumnya terdapat pada perairan yang relatif dangkal dan jernih serta suhunya hangat ( lebih dari 22 derjat celcius) dan memiliki kadar karbonat yang tinggi. Binatang karang hidup dengan baik pada perairan tropis dan sub tropis serta jernih karena cahaya matahari harus dapat menembus hingga dasar perairan. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis, sedangkan kadar kapur yang tinggi diperlukan untuk membentuk kerangka hewan penyusun karang dan biota lainnya.
Indonesia yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa, mempunyai terumbu karang terluas di dunia yang tersebar mulai dari Sabang- Aceh sampai ke Irian Jaya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 212 juta jiwa, 60 % penduduk Indonesia tinggal di daerah pesisir, maka terumbu karang merupakan tumpuan sumber penghidupan utama.
Disamping sebagai sumber perikanan, terumbu karang memberikan penghasilan antara lain bagi dunia industri ikan hias, terumbu karang juga merupakan sumber devisa bagi negara, termasuk usaha pariwisata yang dikelola oleh masyarakat setempat dan para pengusaha pariwisata bahari.



Kehidupan Di Terumbu Karang
Hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang merupakan tiga eksosistim penting di daerah pesisir. Hutan bakau dan padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam melindungi pantai dari ancaman abrasi dan erosi serta tempat pemijahan bagi hewan-hewan penghuni laut lainnya. Terumbu karang merupakan rumah bagi banyak mahkluk hidup laut. Diperkirakan lebih dari 3.000 spesies dapt dijumpai pada terumbu karang yang hidup di Asia Tenggara. Terumbu karang lebih banyak mengandung hewan vertebrata. Beberapa jenis ikan seperti ikan kepe-kepe dan betol menghabiskan seluruh waktunya di terumbu karang, sedangkan ikan lain seperti ikan hiu atau ikan kuwe lebih banyak menggunakan waktunya di terumbu karang untuk mencari makan. Udang lobster, ikan scorpion dan beberapa jenis ikan karang lainnya diterumbu karang bagi mereka adalah sebagai tempat bersarang dan memijah. Terumbu karang yang beraneka ragam bentuknya tersebut memberikan tempat persembunyian yang baik bagi iakn. Di situ hidup banyak jenis ikan yang warnanya indah. Indonesia memiliki lebih dari 253 jenis ikan hias laut. Bagi masyarakat pesisir terumbu karang memberiakn manfaat yang besar , selain mencegah bahay abrasi mereka juga memerlukan ikan, kima kepiting dan udang barong yang hidup di dalam terumbu karang sebagai sumber makan dan mata pencaharian mereka.



Fungsi Dan Manfaat Terumbu Karang
Setelah mengenali, maka cintai dan peliharalah terumbu karang, karena terumbu karang mempunyai fungsi dan manfaat serta arti yang amat penting bagi kehidupan manusia baik segi ekonomi maupun sebagai penunjang kegiatan pariwisata dan manfaat serta terumbu karang adalah:
  1. Proses kehidupan yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk tumbuh dan berkembang biak untuk membentuk seperti kondisi saat ini.
  2. Tempat tinggal, berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan dan tumbuhan yang menjadi tumpuan kita.
  3. Indonesia memiliki terumbu karang terluas didunia, dengan luas sekitar 600.000 Km persegi.
  4. Sumberdaya laut yang mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi.
  5. Sebagai laboratorium alam untuk penunjang pendidikan dan penelitian.
  6. Terumbu karang merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang terancam punah serti kima raksasa dan penyu laut.
  7. Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan magrove
  8. Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3 - 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun.
  9. Keindahan terumbu karang sangat potensial untk wisata bahari. Masyarakat disekitar terumbu karang dapat memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatn mereka bertambah
  10. Terumbu karang potensi masa depan untuk sumber lapangan kerja bagi rakyat Indonesia
Melanggar Hukum
Pengrusakan terumbu karang tersebut khususnya yang disebabkan oleh aktivitas manusia, merupakan tindakan inkonstitusional alias melanggar hukum. Dalam UU 1945 pasal 33 ayat 3 dinayatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pasal 33 ayat 3 ini merupakan landasarn yuridis dan sekaligus merupakan arah bagi pengaturan terhadap hal yang berkaitan dengan sumberdaya terumbu karang. Selain itu salah satu tujuan dari Strategi Konservasi Dunia 1980 adalah menetapkan terumbu karang sebagai sistem ekologi dan penyangga kehidupan yang penting untuk kelangsungan hidup manusia dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, terumbu karang di sebagai salah satu sumberdaya alam yang ada di Indonesia, pengelolaannya harus di dasarkan pada peraturan - peraturan,di antaranya:
  1. UU RI No. 4/1982, tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup.
  2. UU RI No. 9/1985. Tentang perikanan.
  3. UU RI No. 5/1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem.
  4. UU RI No. 9/1990 Tentang Kepariwisataan.
  5. Peraturan pemerintah No. 29/1986 tentang analisa dampak lingkungan.
  6. Keputusan menteri kehutanan No. 687/Kpts.II/1989 tanggal 15 Nopember 1989 tentang pengusaha hutan wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Hutan Laut.
  7. Surat edaran Menteri PPLH No. 408/MNPPLH/4/1979, tentang larangan pengambilan batu karang yang dapat merusak lingkungan ekosistem laut, situjukan kepada Gubenur Kapala Daerah, Tingkat I di seluruh Indonesia.
  8. Surat Edaran Direktur Jenderal Perikanan No. IK.220/D4.T44/91, tentang penangkapan ikan dengan bahan/alat terlarang - ditujukan kepada Kepala Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia
Dikutip dari berbagai sumber

Selasa, 02 Agustus 2011

Menyelam dengan NITROX

Menyelam dengan Nitrox bisa lebih lama saat Bottom Time*(Daryanto)


Manfaat menyelam dengan mengunakan NITROX:

·        Waktu penyelaman yang lebih lama ( menjelajah wreck atau fotografi ).

·        Tidak merasa lelah setelah melakukan penyelaman,karena oksigen yang lebih tinggi kadarnya.

·        Waktu jeda istirahat di permukaan yang lebih singkat dari biasanya.

·        Mengurangi resiko penyakit decompresi, dsb.



Penyelam dengan Nitrox bisa lebih lama bermain di Bottom Time*(Daryanto)
Perbedaan mendasar antara scuba diving reguler dan diving Nitrox adalah jenis udara yang digunakan dalam tangki penyelam. Scuba Regular memiliki campuran antara nitrogen dan oksigen (21 %), layaknya udara di permukaan Bumi. Nitrox diving, di sisi lain merubah kadar campuran antara Gas Nitrogen dan Oksigen  untuk memaksimalkan waktu dasar (yakni, waktu yang dihabiskan penyelam bawah laut) dan meminimalkan interval permukaan (yakni, waktu penyelam beristirahat di permukaan sebelum kembali diving berikutnya).

Nitrox bisa datang dalam berbagai rasio, mereka biasanya digolongkan menjadi dua jenis: hipoksia yang berisi persentase yang lebih rendah oksigen daripada udara biasa (misalnya, kurang dari 21%), dan Nitrox hyperoxic yang berisi lebih dari 21% oksigen. Rekreasi dan olah raga menyelam hanya dapat menggunakan Nitrox hyperoxic campuran. Jenis Nitrox ini juga dapat disebut SafeAir, atau diperkaya udara Nitrox (EAN atau EANx). Ada dua jenis umum Nitrox diving: Nitrox I, juga disebut Nitrox 32, yang terdiri dari oksigen 32% dan 68% nitrogen, dan Nitrox II, juga disebut Nitrox 36, yang terdiri dari 36% oksigen dan nitrogen 64%.

Prinsip yang mendasari di balik Nitrox diving relatif sederhana. Pada umumnya Semakin lama dan lebih dalam penyelaman maka akan lebih banyak nitrogen memasuki sistemnya. Terlalu banyak nitrogen dalam sistem itu dapat menyebabkan kelumpuhan, beberapa yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi hal ini, seorang penyelam harus naik secara perlahan, membuat dekompresi stop dan mematuhi waktu interval permukaan dianjurkan sebelum penyelaman berikutnya.


Menyelam dengan Nitrox bisa lebih menambah kebugaran *(Daryanto)

Untuk penyelam Nitrox rekreasi atau olahraga, ada sedikit berbeda karena sejak "diperkaya" nya udara memiliki lebih banyak kadar oksigen dan kadar nitrogen yang kurang, tubuh penyelam Nitrox  akan berkurang menyerap nitrogen dibandingkan dengan   penyelam yang menggunakan tangki scuba biasa. Akibatnya, penyelam Nitrox dapat menghabiskan lebih banyak waktu di bawah air, waktu kurang pada dekompresi stop dan interval di permukaan, dan dalam beberapa kasus mungkin tidak perlu untuk membuat sama sekali. Beberapa penyelam juga melaporkan manfaatnya yakni menjadi kurang lelah (merasa segar) setelah menyelam Nitrox daripada setelah menyelam dengan tabung udara biasa.

Referensi pemakaian Nitrox*(Daryanto)

 
Sementara Nitrox pasti memiliki manfaat, ada beberapa tindakan tambahan yang harus juga diperhatikan oleh penyelam Nitrox, sehubungan dengan kadar oksigen yang lebih tinggi di dalamnya dan akan mempengaruhi batas kedalaman serta resiko yang mengiringinya

Rabu, 27 Juli 2011

Penyelaman Malam (Night Dive)




Night dive atau selam malam menurut ADS International merupakan kegiatan selam yang dilakukan ketika matahari tenggelam menghilang dari horizon atau permukaan laut. Sedangkan penyelaman fajar / Sunrise dive didefinisikan sebagai penyelaman yang dilakukan dimana  penyelam saat muncul ke permukaan air bersamaan dengan di saat matahari mulai terbit dari horizon.
Selam malam merupakan salah satu materi yang diajarkan pada jejang Advace Diver ADS International bersama dengan kemampuan SAR, Compas Navigation, Natural navigation, Deep Dive, Boat Dive dan Emergency procedures. Selam malam diajarkan pada jenjang Advance Diver dengan pertimbangan bahwa pada saat pendidikan jenjang Advance Diver seorang penyelam telah memiliki 25 log selam sehingga dengan demikian diharapkan penyelam tersebut memiliki kemampuan dan pengalaman selam dasar yang memadai dan siap untuk ditingkatkan kemampuannya.
Perlatan-peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan night dive adalah sebagai berikut :
  • Lampu senter / sorot utama
  • Lampu senter /sorot cadangan
  • Baterai cadangan
  • Tali mitra / buddy line
  • Safety light / Light stick
  • Lampu Tender
  • Lampu Arahan
  • Pelampung tender / mooring buoy


Setelah semua peralatan memadai untuk melakukan kegaitan night dive maka Briefing merupakan “rule ADS International” yang wajib dilakukan. Dalam briefing ada beberapa cakupan antara lain :
  • Pastikan bahwa kesehatan fisik dan mental para penyelam dalam keadaan baik dan setiap orangnya telah membawa back up lampu cadangan
  • Patern arah ,waktu, kedalaman dan tujuan serta maksud selam malam kali ini.
  • Keseragaman / persamaan Underwater Sign dengan mempergunakan lampu sorot
  • Cara menyorotkan lampu kearah objek yang akan dilihat pada malam hari
      
        
 Gambar 1. Peralatan Pendukung Night Dive


Senter sebagai alat pandu utama dalam kegiatan night dive. Dalam penggunaan senter untuk night dive perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
  • Beri tanda /signal kepada mitra selam melalui sorot lampu kearah tangan kita dengan membentuik tanda OK dan seterusnya
  • Adalah salah, bila tanpa sadar kita langsung menyoroti wajah mitra selam kita karena sekedar ingin bertanya kepadanya bagaimana kondisinya , banyak sekali penyelam yang melakukan hal yang salah ini
  • Keseragaman Light Sign harus disepahami bersama baik antara penyelam maupun operator didarat/kapal
  • Hanya satu orang yang boleh menggerak-gerakkan lampu tanda dari daratan/kapal, kearah penyelam,  yaitu dive master atau petugas yang ditunjuk
  • Ditekankan disini,bahwa standby sign / lampu tanda entry point yang dipasang pada kapal tender ataupun didarat untuk tidak boleh :
    • Digerak-gerakkan,karena tanda tersebut tidak beraturan yang menyebabkan kebingungan bagi penyelam yang melihatnya saat muncul ke mermukaan
    • Dipindahkan, dimatikan atau dibawa pergi kesesuatu tempat dengan alasan tertentu
  • ADSI tidak dmerekomendasi atau membenarkan menyelam malam tanpa lampu back up atau cadangan.


Beberapa posisi lampur senter yang diajurkan oleh ADS International sebagai berikut :
  • Bila ternyata kejernihan air pada malam hari sangat tidak menguntungkan atau keruh, maka segera menggunakan buddy line yang dikaitkan pada tangan masing-masing pasangan penyelam kiri dan kanan, terlebih bila sinar lampu sulit menembus sehingga pandanganpun terbatas
  • Bila seseorang yang tangan kirinya sedang dikaitkan dengan tali mitra ,maka yang memegang lampu haruslah tangan sebelah kanannya, demikian pula sebaliknya.
  • Keuntungan dengan cara memegang lampu sorot secara berseberangan atau opposite possition,akan membuat daya padang lebih luas,karena cakupan sinar lampu satu dengan lainnya bersebelahan
  • Bila hendak melihat sebuah objek atau benda didalam air, maka, arahkan sinar lampu secara menyerong agar pantulan sinar tidak langsung memantul kearah wajah kita secara langsung
  • Rentangkan kedua tangan dan kaki saat menjelang tiba permukaan
  • Lakukan latihan secara berkala dan teratur
Pelaksanaan entry pada kegiatan night dive dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara antara lain entry dari pantai maupun dari kapal.
  1. Entry dari Pantai
  • Pastikan Lampu utama ( Main Lamp) terpasang dengan baik dan tetap menyala
  • Letakkan lampu arahan (direction lamp atau auxilary lamp) dengan posisi yang lebih rendah
  • Pasanglah lampu arahan dengan jarak minimal 4 meter dari lampu utama kearah laut
  • Jarak (garis lurus yang terbetuk) lampu arahan dan lampu utama disebut Direction Light Line,ini sangat berguna dikala penyelam berenang menuju exit point ( titik keluar)

Gambar 2. Skema Posisi Main Lamp dan Dircetion lamp
  • Banyak penyelam yang melupakan metoda ini menyebabkan arah renang mereka tidak dapat tepat pada exit point ( mistarget)
  1. Entry dari Kapal
  • Kaitkan atau letakkan lampu atau stick light yang sedang menyala sebagai tanda pada tali pandu yang akan dilalui
  • Hindari menyorotkan sinar lampu kearah bagian wajah mitra selam kita, karena ini akan menyebabkan silau bahkan dis-orientasi baginya.
    • Sorotlah sinar lampu kearah ujung bagian fin searah tali pandunya,sehingga akan mudah di lihat oleh penyelam
    • Bagi pasangan penyelam yang sedang melakukan descent down secara berdampingan , bila tangan kanan yang sedang memegang tali pandu maka tangan sebelah kirilah yang membawa lampu sorot, demikian pula sebaliknya
    • Penyelaman malam yang dibahas ini, hanya dilakukan dengan metoda Idle Boat dengan jarak yang cakupannya terbatas
Sedangkan untuk melakukan selam malam dengan metoda Drift Dive, hanyalah diperuntukkan bagi yang telah memiliki pengalaman serta kemampuan lebih, biasanya dia lakukan untuk kepentingan ,SAR dan para peneliti


  • Menyelamlah dengan tertib dan tetap menjaga formasi yang dtelah ditetapkan, demi keselamatan semuanya
Mengingat kegiatan night dive merupakan kegiatan selam yang memerlukan dukungan peralatan yang memadai, tehnik yang benar dan kesiapan fisik yang prima. Oleh karena itu persiapan yang matang merupakan kunci sukses kegiatan night dive dan yang harus selalu diingat “JOYFUL AND SAFETY DIVING”
Sumber :
UKSA – 387 UNIVERSITAS DIPONEGORO

Senin, 25 Juli 2011

Menyelam, Olah Raga Juga Rekreasi

"Ih .. kok gak takut sih nyelam? Kan berbahaya tuuh.."
"Gue kan gak bisa berenang, gimana mau nyelem?"
"Ah… ntar kulit gue jadi item.. lagian di laut kan bikin lengket, rambut rusak.."
"Itu kan cocoknya buat cowok, liat aja alat-alatnya yg berat-berat gitu"
"Takut ah.. ntar di makan hiu"
Itu tadi beberapa komentar dari teman-teman wanita saya bila diajak menyelam ataupun mengetahui kalau saya melakukan aktivitas ini. Dan sepertinya komentar-komentar itu sudah menjadi "mitos"nya menyelam.
Jangan Takut Menyelam

Tidak ada yang perlu ditakutkan saat menyelam. Karena menyelam merupakan kegiatan petualangan di luar ruang yang amat menyenangkan. Kecelakaan mungkin saja terjadi, tetapi itu sangat kecil dibandingkan dengan aktivitas luar ruang lainnnya seperti rafting, panjat tebing, naik gunung atau ski. Menyelam itu sangat aman, asalkan dilakukan sesuai dengan prosedur dan "pakem" yang sudah ditetapkan.
Putri, blogger yang tinggal di Karawaci, justru merasakan manfaat menyelam dapat mengurangi ketakutannya (phobia) terhadap laut, karena ternyata di bawah laut itu indah. Pengalaman pertamanya menyelam membuatnya selalu ingin kembali menjelajahi dunia bawah air.
Mengenai anggapan bahwa untuk belajar menyelam harus jago berenang seperti layaknya seorang atlet renang, sebenernya tidak perlu seperti itu. Yang penting adalah tahu bagaimana cara berenang. Selebihnya ketrampilan itu bisa diasah agar lebih mahir lagi.
Menyelam sudah pasti dapat juga dinikmati oleh wanita. Karena menyelam adalah ketrampilan yang bisa dipelajari dan dilatih. Alatnya tidak berat seperti yang dibayangkan. Saya saja yang terbilang mungil ini bisa kok melakukannya :D. Kalau dulu, memang menyelam didominasi pria, tapi sekarang jumlah penyelam wanita dan pria hampir sama. Bahkan beberapa wanita pun sudah ada yang sampai ke jenjang instruktur.

Hani, blogger asal Lombok yang saat ini sedang mengambil Master di Hamilton, New Zealand, bahkan sudah mulai menyelam saat usianya masih 13 tahun dan selama hampir 20 tahun masih menekuni aktifitas ini. Ia merasa bahwa dunia bawah laut adalah dunianya.
Kulit menjadi hitam atau lengket dan rambut rusak, tidak perlu dikhawatirkan. Sehitam-hitamnya kulit kita (orang Indonesia) terkena matahari, tidak akan seperti orang-orang ras Negroid. Lagipula itu hanya bersifat sementara karena toh akan kembali seperti semula. Dan sekarang sudah banyak sekali produk-produk perawatan untuk badan, rambut dan kulit. Bukankah tidak menyelampun kebanyakan wanita juga memakai produk-produk tersebut?
Takut dimakan hiu? Sebenernya kebanyakan jenis ikan hiu tidaklah agresif. Great White Shark yang kadang ditemukan di pantai selatan Australia dan dapat dikategorikan sebagai jenis hiu yang sangat berbahaya itupun jarang ditemui. Kebanyakan para penyelam jarang bertemu ikan hiu. Sedangkan mereka yang pernah bertemu secara tak sengaja justru terkesan dengan "kecantikan" dan keanggunan si ikan hiu, dan tidak merasa terancam. Ikan-ikan hiu yang umumnya ditemui penyelam pada dasarnya adalah pemalu dan enggan untuk di dekati.
Jadi tidak ada alasan bagi wanita untuk tidak melakukan aktifvtas menyelam bukan? Retno, blogger yang saat ini tinggal di Belanda, cuma berkomentar, "Enak gila!", saat ditanya bagaimana rasanya menyelam. Gak beda jauh dengan Retno, Putri pun berkomentar, "Rasanya sejuta! saat menjatuhkan badan dengan back roll dari kapal ke air". Sedangkan Hani merasa "Cool!" saat menyelam.
Jenis Penyelaman
Sebenernya apa dan bagaimana sih menyelam itu? Menyelam, secara umum bisa dibagi menjadi 3 jenis, yaitu snorkeling, free diving dan scuba diving.
Snorkeling. Seperti namanya, penyelam memakai masker (kacamata selam), snorkel (alat untuk jalan masuknya udara) dan fin (kaki katak) untuk melakukan aktivitas berenang yang sebagian besar di lakukan di atas permukaan air dan melihat apa yang ada di bawah permukaan air.

Free Diving. Snorkeling kadang-kadang dikenal juga sebagai free diving. Istilah free diving ini digunakan ketika penyelam menyelam sambil menahan nafas selama beberapa waktu berada di bawah permukaan air. Aktivitas umum yang dilakukan para free divers antara lain spear fishing, fishing, memotret dan berbagai kompetisi free diving. Untuk aktivitas memotret menjadi lebih mudah karena dengan free diving tidak akan menimbulkan gelembung udara sehingga lebih mudah untuk bisa mendekat ke obyek yang akan di foto. Tapi tentu saja untuk melakukan aktivitas ini dibutuhkan kemampuan untuk menahan napas dengan baik dan benar.
Scuba Diving, merupakan kegiatan di bawah permukaan air yang dilakukan dengan alat bantu untuk bernafas di dalam air yaitu SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus). Sistem ini pertama kali dirancang oleh Jacques Cousteau, dimana udara yang bertekanan tinggi dimasukkan ke dalam tabung/tangki udara kemudian tekanannya dikurangi, dimampatkan, disaring dan dipompa sehingga bisa dihirup layaknya kita bernapas di atas permukaan air. Jadi salah kalo ada yang beranggapan bahwa udara yang di hirup penyelam adalah oksigen murni.
Menyelam dengan scuba merupakan aktivitas yang banyak dilakukan oleh para penyelam, karena ketrampilan ini bisa digunakan untuk berbagai tujuan antara lain :
1. Penyelaman untuk tujuan pertahanan dan keamanan negara, antara lain penyelaman untuk tugas-tugas tempur maupun kemanusiaan, seperti SAR (Search and Rescue). Penyelaman jenis ini banyak dilakukan oleh militer.
2. Penyelaman Komersial (Commercial Diving).
Penyelaman yang dilakukan oleh penyelam professional untuk melakukan kegiatan seperti konstruksi bawah air, penambangan lepas pantai, pengangkatan kapal tenggelam dan lain-lain. Untuk melakukan penyelaman ini dibutuhkan sekolah khusus untuk menjadi commercial diver.
3. Penyelaman Ilmiah (Scientific diving).
Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan yang ada di bawah air, seperti penelitian, biologi laut, geologi, kedokteran hiperbarik, arkeologi dan ilmu-ilmu kelautan lainnya. Retno yang sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan, saat masih mejadi mahasiswa, beberapa kali melakukan penyelaman jenis ini, antara lain ekspedisi monitoring terumbu karang dan juga aktif di penelitian.
4. Penyelaman Olah Raga/rekreasi (sport/recreation diving).
Penyelaman inilah yang paling banyak diminati, karena selain sebagai sarana olah raga juga untuk kepentingan rekreasi atau wisata bawah air.

"Selalu ada kenikmatan sendiri setiap kali menyelam yang kadang-kadang susah diungkapkan dengan rangkaian kata-kata," ungkap Hani. "Dengan menyelam orang bisa lebih mengenal keindahan laut", komentar Putri.
Scuba Diving merupakan kegiatan yang sangat aman bila dilakukan dengan benar dan sangat memperhatikan prosedur keselamatan. Bila tidak, Scuba Diving bisa menjadi kegiatan yang beresiko tinggi baik bagi kesehatan dan keselamatan sang penyelam.
Agar dapat menyelam dengan scuba, seseorang harus mengikuti pelatihan/kursus menyelam hingga memperoleh sertifikat. Melalui kursus ini seorang calon penyelam akan dilatih dan dibekali dengan pengetahuan tentang seluk beluk penyelaman dengan scuba. Sertifikasi penyelaman dengan scuba dibagi dalam beberapa tingkat/jenjang kemahiran, mulai dari pemula (Open Water Diver), lanjutan (Advance Open Water), Rescue Diver, Master Scuba Diver hingga mencapai jenjang instruktur.
Hani, Putri, Retno dan saya sendiri, sepakat bahwa menyelam itu menyenangkan dan selalu menimbulkan rasa kangen bila lama tidak menjelajah dunia bawah air. Dan tidak usah jauh-jauh, negara kita memiliki sumber daya alam bawah air yang sangat indah dan kelas dunia. Kalau penyelam-penyelam asing menjadikan Indonesia sebagai tujuan mereka menyelam, kenapa kita tidak?
Yuk menyelam, Olah raga sekaligus rekreasi.*** (itha)